Nagoya, 3 Oktober 2026 – Kunlavut Vitidsarn menorehkan sejarah baru bagi bulu tangkis Thailand setelah merebut medali emas tunggal putra Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Pebulu tangkis yang akrab disapa View itu menjadi pemain Thailand pertama yang menjuarai nomor tunggal putra sepanjang sejarah Asian Games. Prestasi tersebut diraih setelah Kunlavut menaklukkan Loh Kean Yew dari Singapura pada pertandingan final, Selasa (29/9/2026). Pemain peringkat satu dunia itu menang dua gim langsung dengan skor 21-12 dan 21-16.
Perjalanan Kunlavut menuju emas juga memperlihatkan dominasinya sejak semifinal. Ia mengalahkan tunggal putra Indonesia Alwi Farhan dengan skor 21-13 dan 21-15 untuk memastikan tiket ke pertandingan puncak. Keberhasilan tersebut sekaligus membuat Kunlavut menjadi tunggal putra Thailand pertama yang berhasil mencapai final Asian Games. Sebelum pencapaiannya, prestasi terbaik Thailand pada nomor tersebut adalah perunggu yang diraih Sangob Rattanusorn pada Asian Games 1970.
Pada pertandingan final di Ichinomiya City Municipal Gymnasium, Kunlavut mampu mengendalikan permainan menghadapi Loh yang dikenal memiliki kecepatan dan serangan agresif. Gim pertama sempat berlangsung seimbang sebelum Kunlavut menjauh dan menguncinya dengan skor 21-12. Persaingan lebih ketat terjadi pada gim kedua ketika kedudukan sempat mencapai 13-13. Kunlavut kemudian kembali mengambil momentum hingga menyelesaikan pertandingan dengan kemenangan 21-16.
Emas Asian Games semakin melengkapi perjalanan karier Kunlavut yang telah menghasilkan sederet pencapaian besar. Ia merupakan juara dunia tunggal putra 2023 dan peraih medali perak Olimpiade Paris 2024. Kunlavut juga menjadi juara Asia 2025 serta pernah merebut tiga gelar juara dunia junior secara beruntun pada 2017, 2018, dan 2019. Selain itu, ia tercatat sebagai tunggal putra Thailand pertama yang berhasil menduduki peringkat satu dunia.
Kesuksesan di Nagoya memiliki makna khusus karena Kunlavut sempat melalui periode naik turun setelah Olimpiade Paris. Ia kalah dari Viktor Axelsen pada final Olimpiade 2024, tetapi medali peraknya ketika itu tetap menjadi tonggak penting bagi bulu tangkis Thailand. Kondisi fisik dan performanya kemudian sempat berfluktuasi sebelum kembali bersaing di level teratas. Menjelang Asian Games 2026, Kunlavut bahkan mengaku tidak merasa berada dalam kondisi terbaik dan tidak menyangka perjalanannya dapat berakhir dengan medali emas.
Kemenangan tersebut juga memperpanjang catatan bersejarah Thailand di cabang bulu tangkis. Emas Kunlavut menjadi emas Asian Games pertama Thailand pada nomor tunggal putra sekaligus emas pertama negara tersebut dari nomor perorangan bulu tangkis. Sebelumnya, emas Thailand di cabang ini diperoleh dari nomor beregu putra pada Asian Games 1966 di Bangkok. Di Aichi-Nagoya 2026, Kunlavut juga membantu Thailand meraih medali perunggu pada nomor beregu putra sebelum kemudian menuntaskan pencapaian pribadinya dengan emas tunggal putra.
Selepas pertandingan, Kunlavut menggambarkan keberhasilannya seperti sebuah mimpi dan mempersembahkan medali tersebut untuk masyarakat Thailand, termasuk mereka yang tengah menghadapi bencana banjir. Ia menilai perjuangannya di lapangan tidak sebanding dengan kesulitan yang dihadapi masyarakat terdampak bencana. Dari tiga gelar juara dunia junior, titel juara dunia senior, perak Olimpiade hingga menjadi nomor satu dunia, perjalanan Kunlavut kini dilengkapi satu pencapaian yang sebelumnya belum pernah diraih tunggal putra Thailand. Emas Asian Games 2026 pun menempatkan namanya dalam sejarah bulu tangkis negaranya.