Beijing, 30 Agustus 2026 – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) di China tidak lagi sebatas teknologi yang digunakan untuk eksperimen atau pekerjaan tertentu. AI kini mulai masuk semakin dalam ke berbagai sektor, mulai dari pemrograman, penerjemahan, penulisan naskah, layanan pelanggan, manufaktur, hingga pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan tenaga manusia secara langsung. Perubahan tersebut membawa manfaat berupa peningkatan produktivitas dan efisiensi, tetapi pada saat yang sama mulai menimbulkan kekhawatiran bagi pekerja yang merasa posisi mereka semakin mudah digantikan oleh mesin dan sistem otomatis.
Salah satu gambaran nyata datang dari Fei Zhaojun, seorang programmer di Beijing. Ia sempat ditanya atasannya mengenai kemungkinan AI menggantikan pekerjaan manusia dalam bidang pemrograman. Tidak lama setelah percakapan tersebut, Fei kehilangan pekerjaannya bersama sekitar 160 rekan lainnya. Pengalaman tersebut memperlihatkan bagaimana perubahan teknologi yang sebelumnya dianggap sebagai sesuatu yang akan terjadi di masa depan kini mulai dirasakan langsung oleh pekerja. Bagi sebagian tenaga kerja, perkembangan AI bukan lagi sekadar pembahasan mengenai masa depan pekerjaan, melainkan sesuatu yang sudah memengaruhi pendapatan dan keberlangsungan karier mereka.
Fenomena tersebut semakin terasa karena pemerintah China secara agresif mendorong penerapan AI melalui agenda “AI Plus”. Teknologi kecerdasan buatan diarahkan untuk masuk ke berbagai sektor ekonomi dan aktivitas sehari-hari, termasuk industri, bisnis, layanan publik, serta bidang kreatif. Pemerintah melihat AI sebagai salah satu mesin pertumbuhan ekonomi dan sarana meningkatkan produktivitas. Namun, semakin cepat teknologi diterapkan, semakin besar pula kebutuhan untuk memastikan tenaga kerja mampu mengikuti perubahan tersebut dan tidak tertinggal ketika sebagian pekerjaan mulai mengalami otomatisasi.
Dampak paling jelas terlihat pada pekerjaan yang memiliki banyak tugas berulang dan dapat diterjemahkan menjadi instruksi digital. Pemrograman dasar, penerjemahan, pembuatan konten, administrasi, serta sejumlah pekerjaan layanan dapat dikerjakan lebih cepat dengan bantuan model AI. Perusahaan kemudian memiliki pilihan untuk menggunakan teknologi tersebut agar pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan beberapa orang dapat diselesaikan oleh jumlah pekerja yang lebih sedikit. Bagi perusahaan, perubahan tersebut dapat berarti efisiensi biaya. Namun bagi pekerja, konsekuensinya bisa berupa berkurangnya lowongan, tekanan terhadap upah, atau bahkan kehilangan pekerjaan.
Pekerja kantoran juga mulai merasakan perubahan tersebut. Sejumlah perusahaan teknologi dan pengembang perangkat lunak di China mulai mengubah struktur organisasi setelah mengadopsi AI. Dalam beberapa kasus, divisi tertentu dipangkas karena sebagian pekerjaan dapat dilakukan dengan bantuan sistem AI. Perubahan tersebut membuat pekerja tidak hanya bersaing dengan sesama pencari kerja, tetapi juga harus mampu menunjukkan kemampuan menggunakan teknologi yang sebelumnya tidak menjadi persyaratan utama. Orang yang mampu menggabungkan keahlian profesional dengan AI memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan produktivitasnya dibandingkan mereka yang sama sekali tidak beradaptasi.
Kondisi tersebut menciptakan paradoks. AI dapat membantu seseorang menyelesaikan pekerjaan lebih cepat, tetapi efisiensi yang sama juga dapat membuat perusahaan membutuhkan lebih sedikit tenaga kerja. Seorang programmer misalnya dapat menggunakan AI untuk menulis dan memeriksa kode dalam waktu lebih singkat. Dari sudut pandang produktivitas, hal tersebut merupakan perkembangan positif. Namun jika perusahaan kemudian menggunakan peningkatan produktivitas tersebut untuk mengurangi jumlah programmer, keuntungan teknologi justru dirasakan perusahaan sementara sebagian pekerja kehilangan sumber pendapatan.
Perubahan juga mulai terasa di industri kreatif China. Teknologi video berbasis AI mampu menghasilkan karakter digital, adegan, hingga materi audiovisual dengan biaya dan waktu yang jauh lebih rendah dibandingkan produksi konvensional. Perkembangan tersebut mulai menekan pekerjaan aktor, penulis, kreator konten, serta pekerja di industri livestreaming. Dalam industri drama pendek, penggunaan AI bahkan berkembang sangat cepat sehingga sebagian produksi yang sebelumnya melibatkan manusia mulai digantikan oleh karakter dan materi digital. Kondisi tersebut membuat pekerja kreatif menghadapi pertanyaan sulit mengenai bagaimana mempertahankan profesi ketika teknologi mampu menghasilkan produk serupa dengan biaya yang jauh lebih murah.
Salah satu contoh perubahan besar terjadi dalam produksi konten pendek dan animasi. Teknologi video AI memungkinkan perusahaan membuat materi dalam jumlah besar tanpa membutuhkan proses produksi konvensional yang panjang. Bagi perusahaan, model tersebut menawarkan keuntungan karena biaya dapat ditekan dan produksi bisa dilakukan lebih cepat. Namun bagi pekerja yang selama ini menggantungkan penghasilan dari proyek-proyek tersebut, otomatisasi berarti berkurangnya kesempatan kerja. Sejumlah pekerja kreatif akhirnya harus mencari pekerjaan lain atau mengubah cara mereka mendapatkan penghasilan dengan memanfaatkan teknologi yang sebelumnya dianggap sebagai ancaman.
Tekanan tersebut muncul di tengah kondisi pasar kerja China yang memang sedang menghadapi tantangan. Perlambatan ekonomi, masalah sektor properti, lemahnya konsumsi, serta tingginya persaingan mendapatkan pekerjaan membuat posisi pekerja semakin rentan. Pekerjaan fleksibel seperti pengemudi dan kurir juga semakin banyak digunakan sebagai alternatif ketika pekerjaan formal sulit ditemukan. Jumlah pekerja fleksibel di China diperkirakan mencapai sekitar 320 juta orang pada 2026, menunjukkan besarnya jumlah masyarakat yang berada dalam pola kerja dengan perlindungan sosial yang lebih terbatas.
Situasi tersebut membuat dampak AI menjadi lebih kompleks. Sulit menentukan apakah seseorang kehilangan pekerjaan semata-mata karena AI atau akibat gabungan berbagai faktor ekonomi. Perusahaan dapat melakukan efisiensi karena kondisi bisnis melemah sekaligus menggunakan AI untuk meningkatkan produktivitas. Dengan demikian, AI bisa menjadi salah satu faktor yang mempercepat perubahan tenaga kerja, sementara perlambatan ekonomi menjadi faktor lain yang mempersempit kesempatan kerja. Kombinasi keduanya membuat pekerja menghadapi tekanan yang lebih besar untuk mempertahankan posisi mereka.
Sejumlah penelitian mengenai perusahaan di China menunjukkan bahwa AI tidak selalu berarti semua pekerjaan langsung menghilang. Penerapan AI juga dapat mengubah komposisi pekerjaan dalam perusahaan. Sebagian tugas produksi dapat digantikan teknologi, sementara kebutuhan terhadap pekerjaan yang berkaitan dengan layanan, pengawasan, analisis, dan pengembangan teknologi dapat meningkat. Artinya, tantangannya bukan semata-mata berapa banyak pekerjaan yang hilang, tetapi jenis pekerjaan seperti apa yang akan bertahan dan keterampilan apa yang dibutuhkan untuk mengisinya.
Perubahan tersebut membuat keterampilan menjadi semakin penting. Pekerja yang sebelumnya hanya mengandalkan kemampuan teknis tertentu kini dituntut memahami bagaimana AI dapat digunakan untuk memperkuat pekerjaan mereka. Seorang penerjemah, misalnya, mungkin harus beralih dari menerjemahkan seluruh dokumen secara manual menjadi mengedit dan memverifikasi hasil terjemahan AI. Programmer dapat menggunakan AI untuk pekerjaan rutin dan memusatkan perhatian pada desain sistem, keamanan, serta persoalan teknis yang lebih kompleks. Dengan perubahan peran tersebut, kemampuan bekerja bersama AI bisa menjadi salah satu faktor penting dalam mempertahankan daya saing tenaga kerja.
Namun, tidak semua pekerja memiliki kesempatan yang sama untuk melakukan transisi. Pekerja dengan pendidikan dan keterampilan tinggi cenderung memiliki lebih banyak pilihan untuk mempelajari teknologi baru. Sebaliknya, pekerja dengan keterampilan rendah atau pekerjaan yang sangat rutin menghadapi risiko lebih besar ketika otomatisasi masuk ke tempat kerja. Kajian Organisasi Perburuhan Internasional juga menemukan adanya dampak teknologi yang berbeda berdasarkan tingkat keterampilan, dengan pekerja berkeahlian rendah lebih rentan terhadap perubahan tertentu yang ditimbulkan otomatisasi dan robotisasi.
Karena itu, persoalan AI di China tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga menyangkut kebijakan ketenagakerjaan. Pemerintah perlu memastikan peningkatan produktivitas tidak menghasilkan kesenjangan yang semakin besar antara perusahaan dan pekerja. Program pelatihan ulang, peningkatan keterampilan digital, dukungan bagi pekerja yang kehilangan pekerjaan, serta perlindungan sosial menjadi semakin penting ketika perusahaan mempercepat adopsi AI. Tantangan tersebut semakin besar karena China juga menghadapi perubahan demografi berupa populasi yang menua dan jumlah tenaga kerja yang berpotensi menyusut dalam jangka panjang.
Ironisnya, kondisi demografi tersebut justru membuat AI memiliki sisi lain yang cukup penting bagi China. Ketika jumlah penduduk usia produktif menurun, otomatisasi dapat membantu perusahaan mengatasi kekurangan tenaga kerja. Robot dan sistem AI dapat mengambil alih pekerjaan tertentu yang sulit dipenuhi manusia dalam jumlah cukup. Dalam jangka panjang, teknologi tersebut berpotensi menjaga kapasitas produksi sekaligus membantu perekonomian menghadapi perubahan struktur penduduk. Namun, manfaat tersebut hanya akan terasa luas apabila pekerja yang terdampak memiliki jalur yang jelas untuk berpindah ke pekerjaan baru.
China kini berada dalam posisi yang cukup unik. Di satu sisi, negara tersebut ingin menjadi salah satu pemimpin dunia dalam pengembangan dan penerapan AI. Di sisi lain, pemerintah harus memastikan revolusi teknologi tidak menciptakan gejolak sosial akibat meningkatnya ketidakpastian pekerjaan. Karena itu, dorongan terhadap AI perlu berjalan bersamaan dengan kebijakan yang membantu masyarakat beradaptasi. Pengembangan keterampilan baru, pendidikan yang sesuai kebutuhan industri, serta penciptaan lapangan kerja baru menjadi bagian penting dari proses tersebut.
Bagi pekerja China, perubahan terbesar mungkin bukan bahwa semua pekerjaan akan hilang secara bersamaan, melainkan standar pekerjaan perlahan berubah. Posisi yang sebelumnya membutuhkan lima orang bisa saja hanya membutuhkan tiga orang dengan bantuan AI. Pekerjaan yang bertahan pun dapat memiliki tuntutan keterampilan yang lebih tinggi. Perusahaan akan semakin mencari pekerja yang mampu mengoperasikan teknologi, mengambil keputusan, memeriksa hasil AI, serta menyelesaikan masalah yang tidak mudah diotomatisasi. Dengan demikian, revolusi AI secara perlahan dapat mengubah struktur pasar kerja dari bawah hingga ke tingkat manajemen.
Pada akhirnya, pengalaman China memperlihatkan bahwa revolusi AI memiliki dua wajah. Teknologi tersebut dapat meningkatkan produktivitas, mempercepat pekerjaan, membantu perusahaan berkembang, dan mengatasi kekurangan tenaga kerja. Namun pada saat yang sama, AI juga dapat menekan upah, mengurangi kebutuhan terhadap pekerjaan tertentu, serta membuat pekerja dengan keterampilan terbatas semakin rentan. Tantangan terbesar bagi China bukan sekadar seberapa cepat AI diterapkan, melainkan bagaimana memastikan manfaat teknologi tersebut dapat dirasakan tanpa membuat jutaan pekerja kehilangan kesempatan untuk mendapatkan penghidupan yang layak.