Israel Gelar Penggerebekan Besar di Tepi Barat, Puluhan Warga Palestina Ditangkap

Jakarta, 25 Oktober 2026 – Pasukan Israel melancarkan operasi militer besar-besaran di sejumlah kota dan permukiman wilayah Tepi Barat yang diduduki sejak Jumat (23/10/2026). Dalam operasi tersebut, puluhan warga Palestina dilaporkan ditangkap setelah tentara Israel memasuki kawasan permukiman dan menggeledah rumah-rumah penduduk. Penggerebekan berlangsung di berbagai wilayah, termasuk Nablus, Jenin, Tubas, Qalqilya, dan Hebron. Operasi ini dilakukan menyusul serangan bersenjata di dekat Hebron yang menewaskan dua tentara Israel. Peningkatan aktivitas militer tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan warga sipil dan memburuknya situasi keamanan di Tepi Barat.

Operasi militer Israel dilaporkan menjangkau sedikitnya 15 kota dan permukiman di bagian utara Tepi Barat pada Sabtu (24/10/2026). Di wilayah Nablus, tentara Israel memasuki Desa Jalud dan Qaryut serta melakukan penggeledahan terhadap sejumlah rumah penduduk. Penangkapan juga dilaporkan berlangsung di Arrabeh dan Burqin yang berada di sekitar Jenin. Sementara itu, pasukan Israel memasuki Tubas dan Kota Aqqaba dalam rangkaian operasi yang sama. Aktivitas militer yang berlangsung di banyak lokasi tersebut menyebabkan meningkatnya ketegangan di tengah masyarakat Palestina.

Menurut organisasi Palestinian Prisoners’ Club, sekitar 70 warga Palestina ditangkap dalam operasi yang berlangsung pada Jumat dan Sabtu. Jumlah tersebut merupakan data yang disampaikan organisasi pemantau tahanan Palestina dan belum mendapatkan konfirmasi terperinci dari pihak militer Israel. Sejumlah penangkapan dilaporkan dilakukan ketika tentara memasuki kawasan permukiman dan memeriksa rumah warga. Hingga laporan tersebut disampaikan, belum seluruh identitas maupun status hukum orang-orang yang ditahan diumumkan secara terbuka. Kondisi ini memunculkan perhatian mengenai proses penahanan dan perlindungan hak warga yang terdampak operasi.

Di Hebron, operasi militer berlangsung dengan intensitas lebih besar setelah serangan terhadap tentara Israel pada Jumat. Pemerintah Israel menyatakan operasi tersebut ditujukan untuk mencari orang-orang bersenjata dan persenjataan yang dianggap mengancam keamanan. Pasukan Israel juga melakukan pembongkaran bangunan serta memberlakukan pembatasan pergerakan di sejumlah kawasan. Salah satu bangunan bertingkat dilaporkan dihancurkan, sementara sejumlah keluarga diminta meninggalkan tempat tinggal mereka. Tindakan tersebut menimbulkan dampak langsung terhadap kehidupan penduduk yang berada di sekitar lokasi operasi.

Dampak penggerebekan juga terlihat dari meningkatnya jumlah warga Palestina yang kehilangan akses ke tempat tinggal mereka. Seorang pejabat pemerintah kota Hebron menyatakan sekitar 1.200 orang telah mengungsi akibat operasi militer tersebut. Selain itu, sekitar 1.300 warga lainnya disebut menghadapi risiko kehilangan rumah apabila pembongkaran dan pengosongan kawasan terus berlangsung. Sejumlah keluarga terpaksa meninggalkan rumah dengan membawa barang-barang yang dapat mereka selamatkan dalam waktu singkat. Pemerintah Palestina mengkritik operasi tersebut sebagai bentuk hukuman kolektif terhadap masyarakat sipil, sementara Israel menyatakan tindakannya berkaitan dengan kebutuhan keamanan.

Pembatasan akses jalan menjadi persoalan lain yang dihadapi masyarakat Tepi Barat. Penutupan gerbang dan pos pemeriksaan militer menyebabkan mobilitas penduduk antarkota semakin terbatas. Aktivitas ekonomi, perjalanan menuju tempat kerja, serta akses terhadap fasilitas kesehatan ikut mengalami gangguan. Sejumlah warga mengaku kesulitan melakukan perjalanan untuk memenuhi kebutuhan medis keluarga akibat pembatasan tersebut. Situasi ini menambah tekanan terhadap masyarakat yang sebelumnya telah menghadapi berbagai hambatan mobilitas di wilayah pendudukan.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya memerintahkan peningkatan operasi keamanan setelah dua tentara Israel tewas dalam serangan di dekat permukiman Telem, kawasan Hebron. Militer Israel menyatakan dua pria Palestina yang diduga melakukan serangan tersebut telah ditembak mati. Pemerintah Israel kemudian memperluas operasi dengan alasan mencegah ancaman keamanan lanjutan. Di sisi lain, otoritas Palestina mengecam perluasan penggerebekan dan meminta perhatian internasional terhadap dampaknya bagi warga sipil. Perbedaan pandangan mengenai tindakan militer tersebut kembali memperlihatkan ketegangan berkepanjangan antara Israel dan Palestina.

Gelombang penggerebekan dan penangkapan di Tepi Barat memperlihatkan situasi keamanan yang semakin tegang menjelang akhir Oktober 2026. Operasi yang menjangkau berbagai kota telah menyebabkan puluhan penahanan, pengungsian warga, serta pembatasan aktivitas masyarakat. Perkembangan tersebut menambah kekhawatiran terhadap kemungkinan berlanjutnya kekerasan dan memburuknya kondisi kemanusiaan. Perlindungan warga sipil serta penghormatan terhadap hukum internasional menjadi perhatian penting di tengah pelaksanaan operasi keamanan. Masyarakat internasional terus menghadapi tantangan untuk mendorong penurunan ketegangan dan mencegah bertambahnya korban di wilayah Tepi Barat.