Jakarta, 10 September 2026 – Indonesia memiliki deretan pebulu tangkis putri yang berhasil mencapai puncak tertinggi olahraga dunia dengan meraih medali emas Olimpiade. Namun, menariknya, tidak semua pemain yang berjaya di Olimpiade mampu mendapatkan medali emas Asian Games sepanjang karier mereka. Susy Susanti, Liliyana Natsir, dan Apriyani Rahayu menjadi tiga nama yang mengalami situasi tersebut. Ketiganya pernah berdiri di podium tertinggi Olimpiade, tetapi belum berhasil menjadi juara Asian Games. Catatan tersebut menunjukkan ketatnya persaingan bulu tangkis Asia yang selama puluhan tahun dihuni banyak kekuatan dunia.
Nama pertama sekaligus salah satu legenda terbesar bulu tangkis Indonesia adalah Susy Susanti. Perempuan kelahiran Tasikmalaya, 11 Februari 1971 itu mencatat sejarah pada Olimpiade Barcelona 1992. Susy berhasil merebut medali emas tunggal putri setelah mengalahkan wakil Korea Selatan Bang Soo-hyun pada pertandingan final. Kemenangan tersebut sangat istimewa karena menjadikan Susy sebagai atlet pertama yang mempersembahkan medali emas Olimpiade bagi Indonesia. Pada hari yang sama, Alan Budikusuma kemudian menyempurnakan keberhasilan Indonesia dengan merebut emas tunggal putra.
Prestasi Susy sepanjang kariernya sebenarnya nyaris lengkap. Ia pernah menjadi juara dunia, empat kali menjuarai All England, meraih berbagai gelar turnamen internasional, serta membawa Indonesia menjadi juara Piala Uber. Dominasi Susy membuatnya menjadi salah satu tunggal putri terbaik dunia pada akhir 1980-an hingga pertengahan 1990-an. Namun, satu gelar besar yang tidak pernah berhasil masuk ke dalam koleksinya adalah medali emas Asian Games. Susy bahkan pernah mengakui Asian Games menjadi salah satu kejuaraan yang belum pernah berhasil dimenangkannya selama berkarier.
Pada Asian Games Beijing 1990, Susy harus puas membawa pulang medali perunggu dari nomor tunggal putri. Ia juga memperoleh medali perak bersama tim putri Indonesia pada nomor beregu. Empat tahun kemudian di Asian Games Hiroshima 1994, situasi serupa kembali terjadi. Susy mendapatkan perunggu tunggal putri dan perak beregu putri. Artinya, dari dua kesempatan Asian Games ketika berada dalam periode terbaik kariernya, Susy belum berhasil mencapai podium tertinggi.
Nama berikutnya adalah Liliyana Natsir, salah satu pemain ganda campuran terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Liliyana mencapai puncak prestasinya bersama Tontowi Ahmad ketika tampil pada Olimpiade Rio de Janeiro 2016. Pasangan yang dikenal dengan julukan Owi/Butet tersebut merebut emas setelah menaklukkan pasangan Malaysia Chan Peng Soon/Goh Liu Ying pada pertandingan final. Prestasi tersebut semakin istimewa karena mereka menjalani turnamen tanpa kehilangan satu gim. Medali emas Rio juga melengkapi pencapaian Liliyana setelah sebelumnya meraih perak bersama Nova Widianto pada Olimpiade Beijing 2008.
Koleksi prestasi Liliyana di luar Olimpiade juga sangat mengesankan. Ia empat kali menjadi juara dunia ganda campuran, masing-masing dua kali bersama Nova Widianto dan Tontowi Ahmad. Gelar All England serta berbagai turnamen internasional juga pernah diraihnya. Namun, Asian Games menjadi salah satu target besar yang tidak berhasil diwujudkan sampai dirinya pensiun. Bahkan menjelang Asian Games Jakarta-Palembang 2018, Liliyana secara terbuka menjadikan emas Asian Games sebagai salah satu target terakhir dalam karier profesionalnya.
Pencapaian terbaik Liliyana datang pada Asian Games Incheon 2014. Bersama Tontowi, ia berhasil melangkah hingga pertandingan final ganda campuran. Harapan meraih emas kemudian dihentikan pasangan China Zhang Nan/Zhao Yunlei sehingga Tontowi/Liliyana harus puas mendapatkan medali perak. Kesempatan terakhir hadir ketika Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018. Namun, perjalanan mereka kembali terhenti setelah dikalahkan Zheng Siwei/Huang Yaqiong dari China pada semifinal sehingga mendapatkan medali perunggu.
Pemain ketiga adalah Apriyani Rahayu. Bersama Greysia Polii, Apriyani membuat sejarah besar ketika menjadi juara ganda putri Olimpiade Tokyo 2020 yang diselenggarakan pada 2021. Mereka mengalahkan pasangan China Chen Qingchen/Jia Yifan dua gim langsung 21-19 dan 21-15 pada pertandingan final. Kemenangan tersebut menjadikan Greysia/Apriyani sebagai pasangan ganda putri Indonesia pertama yang mendapatkan medali emas Olimpiade. Prestasi mereka sekaligus membuat Indonesia akhirnya mempunyai medali emas Olimpiade dari seluruh nomor bulu tangkis.
Apriyani sebenarnya sudah merasakan atmosfer Asian Games sebelum menjadi juara Olimpiade. Pada Asian Games Jakarta-Palembang 2018, ia berpasangan dengan Greysia dan berhasil mencapai semifinal ganda putri. Langkah keduanya dihentikan pasangan Jepang Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi dengan skor 15-21 dan 17-21. Greysia/Apriyani akhirnya memperoleh medali perunggu. Pada kesempatan berikutnya, Apriyani juga belum berhasil membawa pulang emas Asian Games sehingga gelar tersebut belum masuk dalam koleksi prestasinya.
Menariknya, Greysia Polii tidak termasuk dalam daftar pemain yang gagal mendapatkan emas Asian Games. Jauh sebelum menjuarai Olimpiade bersama Apriyani, Greysia sudah menjadi juara Asian Games Incheon 2014 bersama Nitya Krishinda Maheswari. Greysia/Nitya mengalahkan pasangan Jepang Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi pada final ganda putri. Prestasi tersebut membuat Greysia mempunyai pencapaian yang sangat istimewa karena berhasil mengoleksi emas Asian Games dan Olimpiade sepanjang kariernya. Karena itu, meskipun Greysia dan Apriyani meraih emas Olimpiade sebagai pasangan, catatan keduanya di Asian Games berbeda.
Kesulitan mendapatkan medali emas Asian Games juga memperlihatkan betapa beratnya persaingan bulu tangkis di kawasan Asia. Negara-negara seperti China, Korea Selatan, Jepang, Indonesia, Malaysia, India hingga Thailand secara konsisten menghasilkan pemain kelas dunia. Banyak pemain yang menjadi juara dunia dan peraih medali Olimpiade berasal dari kawasan tersebut. Akibatnya, kualitas pertandingan Asian Games pada sejumlah nomor dapat menyerupai persaingan Kejuaraan Dunia ataupun Olimpiade. Seorang pemain bahkan dapat menghadapi beberapa kandidat juara dunia sebelum mencapai pertandingan final.
Catatan Susy Susanti dan Liliyana Natsir menjadi contoh paling menarik karena keduanya mempunyai koleksi gelar internasional yang sangat lengkap. Susy menjadi juara Olimpiade pertama Indonesia dan salah satu tunggal putri paling dominan pada generasinya. Liliyana merupakan juara Olimpiade sekaligus empat kali juara dunia yang bertahan di level elite dalam periode panjang. Meski demikian, keduanya mengakhiri karier tanpa pernah merasakan podium tertinggi Asian Games. Apriyani kemudian masuk dalam kelompok tersebut setelah keberhasilannya mendapatkan emas Olimpiade Tokyo belum diikuti emas Asian Games.
Susy Susanti, Liliyana Natsir, dan Apriyani Rahayu pada akhirnya menunjukkan bahwa medali Asian Games mempunyai tingkat kesulitan tersendiri bagi pebulu tangkis Indonesia. Ketiganya telah mencapai pencapaian terbesar yang dapat diraih seorang atlet melalui medali emas Olimpiade, tetapi perjalanan di pesta olahraga terbesar Asia memberikan cerita berbeda. Susy menjadi pelopor emas Indonesia di Barcelona 1992, Liliyana berjaya bersama Tontowi di Rio 2016, sedangkan Apriyani membuat sejarah bersama Greysia di Tokyo 2020. Sementara Greysia menjadi pengecualian karena mampu mengawinkan emas Asian Games 2014 dengan emas Olimpiade Tokyo. Perbedaan catatan tersebut menjadi bagian menarik dari perjalanan panjang prestasi bulu tangkis putri Indonesia di panggung internasional.