Jakarta, 25 Mei 2026 – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengimbau masyarakat menggunakan besek bambu sebagai wadah pembagian daging kurban pada perayaan Idul Adha 1447 Hijriah sebagai upaya mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai. Imbauan tersebut kembali disampaikan menjelang pelaksanaan kurban mengingat tingginya volume sampah plastik yang biasanya meningkat selama momen pembagian daging kepada masyarakat. Pemprov DKI menilai penggunaan besek atau wadah ramah lingkungan lainnya dapat membantu menekan pencemaran lingkungan sekaligus mendukung kebiasaan masyarakat yang lebih peduli terhadap pengelolaan sampah. Selain memiliki nilai tradisional, besek bambu juga dianggap lebih aman dan memiliki sirkulasi udara yang lebih baik untuk penyimpanan daging kurban dalam waktu singkat. Langkah tersebut menjadi bagian dari kampanye pengurangan sampah plastik yang terus digalakkan pemerintah daerah di berbagai kegiatan masyarakat.
Pengamat lingkungan menjelaskan bahwa penggunaan kantong plastik sekali pakai dalam pembagian daging kurban dapat menghasilkan limbah dalam jumlah sangat besar hanya dalam waktu satu hari. Pada momen Idul Adha, jutaan kantong plastik biasanya digunakan untuk mendistribusikan daging ke masyarakat di berbagai daerah. Kondisi tersebut membuat volume sampah plastik meningkat signifikan dan berpotensi mencemari lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik. Oleh sebab itu, penggunaan alternatif ramah lingkungan seperti besek bambu, daun, atau wadah guna ulang dinilai menjadi solusi yang lebih berkelanjutan. Selain mengurangi sampah, penggunaan besek juga dinilai membantu menghidupkan kembali produk kerajinan tradisional yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat lokal.
Pemprov DKI disebut terus mendorong pengurus masjid, panitia kurban, dan masyarakat agar mulai membiasakan penggunaan kemasan ramah lingkungan dalam setiap kegiatan sosial dan keagamaan. Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan besek bambu saat Idul Adha memang semakin populer di sejumlah wilayah karena dianggap praktis sekaligus mendukung gerakan pengurangan plastik. Pengamat sosial menjelaskan bahwa perubahan kebiasaan masyarakat membutuhkan edukasi dan dukungan bersama agar penggunaan kemasan ramah lingkungan dapat menjadi budaya baru yang berkelanjutan. Selain faktor lingkungan, penggunaan besek juga dianggap memiliki nilai budaya lokal yang mencerminkan tradisi masyarakat Indonesia sebelum dominasi penggunaan plastik modern. Hal tersebut membuat kampanye penggunaan besek tidak hanya berkaitan dengan isu lingkungan, tetapi juga pelestarian budaya tradisional.
Di sisi lain, sebagian masyarakat mengakui penggunaan besek membutuhkan persiapan lebih dibanding kantong plastik yang lebih murah dan mudah ditemukan. Namun banyak pihak menilai biaya tambahan tersebut sebanding dengan manfaat jangka panjang terhadap pengurangan sampah dan kebersihan lingkungan. Pengamat ekonomi lingkungan menjelaskan bahwa peningkatan penggunaan produk ramah lingkungan juga dapat membuka peluang usaha baru bagi pengrajin lokal dan sektor UMKM berbasis anyaman bambu. Dalam beberapa daerah, permintaan besek menjelang Idul Adha bahkan disebut meningkat cukup signifikan dibanding hari biasa. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kampanye pengurangan plastik secara perlahan mulai mendapat respons positif dari masyarakat.
Imbauan penggunaan besek untuk pembagian daging kurban menunjukkan semakin kuatnya perhatian pemerintah terhadap persoalan sampah plastik dan kelestarian lingkungan di perkotaan. Banyak pengamat menilai perubahan kecil dalam kebiasaan masyarakat dapat memberikan dampak besar apabila dilakukan secara luas dan konsisten. Di tengah meningkatnya kesadaran lingkungan, penggunaan kemasan tradisional ramah lingkungan dinilai menjadi langkah sederhana namun efektif untuk mengurangi limbah plastik sekali pakai. Masyarakat berharap kampanye seperti ini dapat terus diperluas tidak hanya saat Idul Adha, tetapi juga dalam berbagai kegiatan sosial dan konsumsi sehari-hari. Dengan dukungan pemerintah dan partisipasi warga, penggunaan besek dan kemasan ramah lingkungan diharapkan dapat menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat perkotaan yang lebih berkelanjutan.