Jakarta, 31 Oktober 2026 – Proyek Liquefied Natural Gas (LNG) Abadi di Blok Masela, Maluku, menunjukkan perkembangan penting setelah menyelesaikan tahap Front-End Engineering Design (FEED) atau desain rekayasa awal pada Oktober 2026. Penyelesaian tahapan tersebut berlangsung sekitar tiga bulan lebih cepat dibandingkan target semula yang dijadwalkan pada akhir tahun. Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto, menyampaikan bahwa proyek strategis nasional tersebut diharapkan dapat mulai berproduksi pada 2029. Namun, pemerintah juga menyiapkan target operasional paling lambat akhir 2030 apabila proses pengembangan membutuhkan waktu tambahan. Proyek dengan nilai investasi sekitar 22 miliar dolar Amerika Serikat ini diproyeksikan menjadi salah satu fasilitas produksi gas terbesar di Indonesia. Selain memenuhi kebutuhan energi domestik, sebagian produksi LNG Abadi Masela juga direncanakan memasuki pasar ekspor, termasuk melalui kesepakatan dengan perusahaan energi yang berbasis di Singapura. ANTARA News+2
Fakta pertama yang menjadi perhatian adalah percepatan penyelesaian tahap FEED sebagai dasar pengembangan fasilitas produksi gas berskala besar. Tahapan ini mencakup penyusunan rancangan teknis, spesifikasi peralatan, kebutuhan infrastruktur, dan perencanaan pembangunan fasilitas utama. Presiden Direktur Inpex Masela Ltd., Kenji Hasegawa, menjelaskan bahwa pekerjaan FEED meliputi empat komponen utama, yaitu sistem fasilitas bawah laut dan jaringan pipa, fasilitas produksi terapung, pipa ekspor gas, serta fasilitas pengolahan LNG di darat. Proses perancangan tersebut melibatkan sejumlah perusahaan rekayasa nasional dan internasional untuk memastikan kesiapan teknis proyek sebelum memasuki konstruksi berskala penuh. Pemeriksaan independen terhadap hasil desain juga melibatkan sekitar 200 akademisi bergelar doktor dan profesor dari Institut Teknologi Bandung, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, serta Universitas Pattimura. Penyelesaian FEED pada Oktober memberikan landasan bagi konsorsium untuk melanjutkan persiapan rekayasa, pengadaan, konstruksi, dan instalasi. Meski demikian, selesainya tahap desain belum berarti seluruh keputusan investasi dan pembangunan fasilitas utama telah dituntaskan.
Fakta kedua berkaitan dengan kapasitas produksi yang direncanakan mencapai 1.380 juta kaki kubik standar gas per hari atau MMSCFD. Dari keseluruhan kapasitas tersebut, fasilitas LNG Abadi Masela ditargetkan mampu menghasilkan sekitar 9,5 juta ton LNG setiap tahun. Selain LNG, proyek ini juga dirancang menghasilkan kondensat sebanyak 35.000 barel per hari yang dapat dimanfaatkan sebagai komoditas industri energi. Untuk kebutuhan dalam negeri, rencana terbaru yang disampaikan SKK Migas mencantumkan pasokan gas pipa sebesar 100 MMSCFD, sementara dokumen pengembangan dan pernyataan pemerintah sebelumnya menyebut kapasitas sekitar 150 MMSCFD. Perbedaan angka tersebut menunjukkan perlunya memperhatikan perkembangan perencanaan teknis dan komersial proyek hingga keputusan investasi akhir ditetapkan. Pemerintah juga telah menetapkan kebijakan agar sedikitnya 60 persen produksi gas dimanfaatkan untuk kebutuhan domestik, sedangkan porsi ekspor dibatasi maksimal 40 persen. Kebijakan tersebut diarahkan untuk mendukung industri pupuk, pembangkit listrik, hilirisasi, dan berbagai kegiatan ekonomi yang membutuhkan pasokan energi jangka panjang. ESDM+2
Fakta ketiga adalah adanya rencana penjualan LNG kepada sejumlah pembeli, termasuk perusahaan energi yang beroperasi di Singapura. Pengembangan pasar tersebut menjadi bagian dari strategi komersialisasi produksi Blok Masela agar proyek memiliki kepastian penyerapan gas ketika mulai beroperasi. SKK Migas menyampaikan bahwa kesepakatan penjualan LNG melibatkan BP Singapura dan Shell Singapura, sementara kebutuhan domestik juga didukung kerja sama dengan PT PLN dan PT Perusahaan Gas Negara. Kesepakatan dengan calon pembeli merupakan salah satu komponen penting dalam penyusunan struktur pembiayaan proyek migas bernilai investasi besar. Kepastian penjualan dibutuhkan untuk memberikan gambaran mengenai potensi pendapatan jangka panjang kepada para pemegang saham dan lembaga pembiayaan. Meski demikian, adanya kesepakatan komersial tidak berarti kegiatan ekspor telah berlangsung karena fasilitas produksi LNG Abadi Masela masih berada dalam tahap pengembangan. Pelaksanaan penjualan nantinya tetap bergantung pada penyelesaian pembangunan, kesiapan fasilitas pengolahan, dan dimulainya produksi komersial sesuai jadwal yang ditetapkan.
Fakta keempat menyangkut struktur kepemilikan dan besarnya manfaat ekonomi yang diharapkan dari pengembangan Blok Masela. Proyek ini dioperasikan oleh Inpex Masela Ltd. dengan kepemilikan saham sebesar 65 persen, sedangkan PT Pertamina melalui anak usahanya memiliki 20 persen dan Petronas menguasai 15 persen. Kerja sama tersebut mempertemukan perusahaan energi dari Jepang, Indonesia, dan Malaysia dalam pengembangan salah satu cadangan gas penting di kawasan Indonesia timur. Lapangan Abadi terletak di Laut Arafura, sekitar 180 kilometer dari Pulau Yamdena, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku. Pemerintah sebelumnya telah melaksanakan peletakan batu pertama pembangunan proyek pada 16 Juli 2026 sebagai penanda dimulainya tahap pembangunan fisik. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memperkirakan kegiatan konstruksi dapat menyerap lebih dari 12.000 tenaga kerja pada periode puncak pembangunan. Selain membuka lapangan pekerjaan, proyek tersebut diharapkan mendorong pertumbuhan usaha lokal, pembangunan infrastruktur, dan peningkatan penerimaan daerah melalui aktivitas industri energi. INPEX CORPORATION+1
Setelah tahap FEED selesai, perhatian pemerintah dan konsorsium kini tertuju pada penyelesaian Final Investment Decision atau FID sebagai keputusan investasi akhir. Djoko Siswanto berharap tahapan tersebut dapat diselesaikan sebelum akhir 2026 atau paling lambat Januari 2027. Keputusan investasi akhir menjadi syarat penting sebelum konsorsium melaksanakan pembangunan fasilitas utama dalam skala penuh. Selain memastikan kelayakan teknis, perusahaan juga perlu menyelesaikan berbagai persyaratan komersial, termasuk perjanjian jual beli gas serta persiapan pengadaan barang dan jasa. Inpex bersama Pertamina dan Petronas akan melanjutkan koordinasi dengan pemerintah, kontraktor, dan pemangku kepentingan lainnya untuk mempercepat pelaksanaan proyek. Pemerintah berharap seluruh proses tersebut dapat berjalan sesuai jadwal agar target produksi pada 2029 dapat diwujudkan, meskipun batas waktu operasional yang disampaikan SKK Migas masih memungkinkan hingga akhir 2030. Percepatan proyek juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan ketahanan energi nasional di tengah kebutuhan gas yang terus berkembang untuk sektor industri dan kelistrikan.
Keberhasilan pengembangan LNG Abadi Masela akan menjadi salah satu indikator penting kemampuan Indonesia merealisasikan proyek energi berskala besar yang telah direncanakan selama puluhan tahun. Cadangan gas Lapangan Abadi pertama kali ditemukan pada 2000, tetapi proses pengembangannya menghadapi berbagai penyesuaian rencana dan tantangan investasi sebelum memasuki tahap pembangunan. Kini, penyelesaian desain rekayasa awal memberikan peluang untuk mempercepat tahapan berikutnya menuju produksi komersial. Pemerintah menekankan bahwa manfaat proyek tidak boleh hanya diukur dari volume LNG yang dihasilkan atau pendapatan ekspor, tetapi juga dari kontribusinya terhadap industri domestik dan kesejahteraan masyarakat Maluku. Penerapan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon juga direncanakan untuk mendukung pengurangan emisi dari kegiatan pengolahan gas. Dengan investasi besar, kapasitas produksi yang signifikan, dan dukungan sejumlah perusahaan energi internasional, Blok Masela diharapkan menjadi salah satu penggerak utama industri gas nasional dalam jangka panjang. Namun, realisasi produksi pada 2029 dan penyaluran LNG ke pasar internasional tetap bergantung pada keberhasilan penyelesaian investasi, konstruksi, serta kesiapan operasional seluruh fasilitas proyek.